Kapan hari ada siswi sedang duduk di area ruang guru nunggu dijemput pulang. Kebetulan saya ada di deket situ. Akhirnya iseng-iseng ngobrol dengan siswi tersebut. Kebetulan esok harinya dia akan ulang tahun sehingga topik pembahasan mengenai dia yang ingin diberi ucapan dan kado dari saya. Namun seperti biasa, saya punya kata-kata untuk menjawab hal tersebut, yaitu "ahh nanti pasti ada cowok romantis yang dateng ke rumahmu atau ngucapin di pergantian malam. Eciyee. Saya mah apa."
Mendengar hal tersebut, siswi tersebut menjawab "Saya lho ga punya cowok Pak. Udah lama putus." Oh iya, kebetulan di sebelah siswi tersebut ada temannya dan langsung menimpali, "halah udah putus tapi masih berharap juga si dia kembali dan ngucapin nanti malem." Saya pun lanjut menanggapinya, "nah kan, jadi masih berharap nih yaa.." iseng saya nanya, "emang dulu putusnya kenapa? Dia ada salah yang besar, milih yang lain atau gimana?" Akhirnya lanjutlah obrolan lebih mendalam membahas kisah cinta siswi tersebut.
Kemudian dia cerita bahwa sebenarnya penyebab putusnya hubungannya adalah cekcok mengenai beberapa hal di mana dia bilang bahwa si cowok kayak tidak mau ngalah dan ingin dominan dalam tiap obrolan. Siswi tersebut mencontohkan ketika jalan bareng dan membahas topik sepatu, si cowok tidak antusias dan langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain dan katanya itu berlangsung dalam waktu lama sehingga si cewek ngerasa cowok tersebut egois dan gak mau kalah. Saya pun mencoba mencerna cerita siswi tersebut dan menanggapinya.
Saya bilang bahwa itu kan cuma masalah biasa beda pandangan atau cara berpikir antara cowok dan cewek. Ada ego masing-masing. Yang penting dia gak selingkuh kan? Atau dia gak sampai berbuat sesuatu yang kasar main fisik gitu kan? Nah siswi tersebut mengiyakan karena nyatanya masalahnya hanya sebatas adu argumen dan debat saja. Cuma ya namanya cewek, kan kalau soal bicara, apalagi dengan pasangan, jelas ingin menang dong. Atau saya sedikit iseng dengan memantik pembicaraan ke contoh hubungan cowok dan cewek di mana si cewek biasa memang normalnya cenderung dominan dalam pembicaraan, dan secara alamiah memang tergerak secara emosional. Sehingga justru ketika ada "bumbu" pertengkaran atau adu argumen tersebut, dia merasa dirinya benar-benar hidup sebagaimana mestinya.
Lain halnya dengan cowok yang cenderung secara alamiah menggunakan logika. Mungkin juga punya ego sebagai pemimpin dan logika manusia kan ingin hubungan baik-baik saja, menghindari cekcok masalah sepele atau cenderung ambil simpel saja terhadap banyak hal. Kedua sudut pandang ini memang sulit untuk bersatu. Makanya hanya pasangan yang saling menurunkan ego saja yang akhirnya bisa lanjut terus. Kadang pas lagi masa damai atau ga ada konflik, tiba-tiba tanpa sadar si cewek cari-cari aja sesuatu yang perlu dibahas dan kalau perlu didebat atau konfrontasi ke cowoknya.
Mungkin hal tersebut bisa menjadi pemuas sisi emosionalnya yang suka dibuat naik turun dan gak bosan di hubungan yang cenderung baik-baik saja atau terlalu datar (flat). Ya setidaknya keren banget saya bisa jelaskan hal tersebut ke siswi padahal saya sendiri aja bujang. Hehe. Sampai akhirnya siswi tersebut refleksi diri dan mengingat-ingat kembali hubungan dengan cowoknya. Selanjutnya dia dijemput pulang.
Malam harinya, muncul story instagram repost dari cowoknya yang mengucapkan ulang tahun sekaligus memberi kado surprise di rumahnya. Dan keesokan harinya ketika bertemu saya, siswi tersebut mengucapkan terima kasih kepada saya karena nasihat saya mengenai psikologis cewek dan cowok, akhirnya dia menyadari bagaimana dia dan hubungan dengan cowoknya. Keduanya akhirnya menjalin hubungan kembali.Wow. Kalau dipikir-pikir, lucu juga ini jadi (sok) ahli percintaan dan iseng yapping (ngobrol) panjang lebar tentang cinta dan hubungan antara cowok cewek ternyata ada yang memperhatikan dan praktik langsung sampe berhasil pula Ahh lucu sekali hidup bagian kisah percintaan orang-orang ini. Haha (sambil terus melanjutkan hidup dengan kisah cinta pribadi yang ahh adalah pokoknya). 😀😏😌🙏
Komentar
Posting Komentar