Langsung ke konten utama

Cinta dan Karir Sering Tidak Bisa Bersatu atau Berjalan Beriringan (dari Mengajar di Kelas dan Nonton Film Dokumenter)

Hari ini ngajar bahasa Inggris bab surat lamaran kerja dan motivasi (application and motivation letter). Di salah satu momen anak-anak presentasi, ada tawaran kerja dengan posisi dan gaji yang menggiurkan tapi penempatan kerjanya jauh dari kota tempat tinggalnya. Saya iseng nanya, "Anak-anak, kira-kira kalau kalian tiba-tiba dapat penawaran kerja dengan gaji tinggi (misal dua digit), tapi penempatannya jauh dari Balikpapan ini, kira-kira diambil atau tidak?" Banyak jawaban "Ambiiiill." 

Namun beberapa siswi terdiam dan tampak tidak menjawab. Mungkin di benaknya ada pikiran, iya walau gajinya besar, tapi harus jauh dari keluarga. Apalagi mungkin yang sudah punya pasangan. Pasti berat pertimbangannya. Karena saya penasaran dan coba menebak isi hati mereka, saya iseng nyeplos, "kayaknya ini yang udah punya pacar, udah kebayang betapa berat LDR-nya yaa walau punya gaji besar?" Hehe. Ada yang menjawab, "Iya gampang pak, nanti kalau duitnya banyak, dapat yang lebih bagus." Namun beberapa lainnya sepertinya terdiam.

Tampak dari raut mukanya yang sepertinya sudah bersyukur mendapatkan pasangan yang sekarang dan tidak ingin berpisah. Ahh cerita cinta masa SMA/SMK/sederajat ini memang benar-benar nyata adanya membekas lama. Lalu ada sebuah entitas dari siswi ini nyeletuk, "Pak, karir dan cinta memang tidak bisa bersatu atau berjalan beriringan, salah satu harus ada yang ngalah." Wow, saya jadi teringat sepertinya kata-kata mutiara (quote) itu pernah saya baca dan anak-anak ada juga yang membaca dan memahaminya.

Saya pun mencoba menelaah. Wah, di antara kegalauan siswi-siswi SMK yang mau lulus ini, ada yang belum kebayang mau ke mana, ada yang dipusingkan dengan beberapa pilihan, ada juga yang wawasannya sudah kebentuk sehingga langkah-langkahnya sudah banyak pertimbangan. Saya pun nyeletuk kembali, "Nah, biasanya nich yaa.. kalau jaman saya dulu, kita putus dulu yaa.. soalnya mau fokus Ujian Nasional (UN). Mungkin kalau sekarang yaa TKA itu." ehh selang beberapa waktu kemudian, dapat gandengan atau pasangan yang baru. Ahh bilang aja sebenarnya pengen putus sejak lama tapi cari alasan yang paling masuk akal.

Pernyataan tersebut disambut tawa meriah anak-anak di kelas. Sengaja saya beri kasus nyata berupa pilihan kehidupan tadi karena kemungkinan besar beberapa bulan mendatang, anak-anak akan mengalaminya langsung. Setidaknya mereka saya kenalkan medan yang lebih besar setelah selesai dari babak pendidikan sekolah. Dan ternyata, beberapa sudah mantap dengan memilih jalur karir, namun beberapa lainnya menimbang dengan seksama soal pasangan. Bisa jadi ada kekhawatiran jika nanti karirnya bagus, belum tentu pasangannya seimbang, atau malah terlalu sibuk dengan karir sampai lupa untuk atau menjadi cekcok dengan pasangan. Ada yang memilih ya walaupun kerja biasa-biasa saja, namun akses ke keluarga dekat, atau pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Nah, malam hari saya nonton film dokumenter National Geographic berjudul Free Solo yang berkisah mengenai orang yang memiliki hobi panjat tebing tanpa tali pengaman. Dokumenter ini tidak lupa dibumbui kisah pribadi si pemanjat tersebut, termasuk bagian asmaranya di mana dia mengejar passion atau hobinya yang ekstrem tersebut. Karena hobinya yang tidak umum dan cenderung menantang maut tersebut, menyebabkan kehidupan asmaranya tidak begitu baik sampai akhirnya ada satu wanita yang mau menemani dan memahami pilihan hidupnya. Dalam film tersebut, ternyata konflik asmara juga terjadi antara keduanya.

Sampai akhirnya ada momen di mana kemesraan keduanya tampak bertambah menjelang momen besar panjat tebing si lelaki. Dalam kisah tersebut, ditampakkan komentar dan sudut pandang dari pengamat dunia panjat tebing yang berkata bahwa dia suka dengan kehidupan asmara si lelaki panjat tebing yang membaik dan cenderung mesra. Namun dia juga mengatakan bahwa lelaki tersebut harus memiliki mental yang kuat dalam melakukan panjat tebing tanpa alat bantu. Memiliki hubungan romantis bisa merusaknya. Si lelaki panjat tebing bebas tersebut harus fokus dan hubungan romantis bisa membuat mental lemah.

Nah, dari sini saya mulai menangkap pemahaman bahwa orang yang mengejar passion atau hobinya sering kali harus menjalani jalur yang sunyi dan jauh dari kisah asmara romantis yang mana sedikit banyak relate dengan pernyataan murid saya di kelas tadi yang mengutip bahwa percintaan dan karir sering tidak berjalan beriringan atau bersatu. Wow, dalam sehari terdapat momen pembuktian pernyataan yang terkait dunia percintaan dan karir atau passion. Entah kenapa terjadi kebetulan begini, atau memang jalannya pemahaman itu datang, bisa melalui murid di kelas saat kegiatan pembelajaran, maupun melalui media film dokumenter berisi kisah hidup orang lain. Begitulah kata-kata mutiara (quote) memiliki asal-usul atau penerapan yang sudah pernah menjalani duluan dan bisa jadi mengilhami kehidupan. Tentu banyak yang masih rumit dan belum bisa terjelaskan. Salam pendidikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedua Mantan yang Layu, Kini telah Tumbuh dan Berkembang

     Cinta di masa muda, terutama di masa sekolah memang memiliki banyak pesona untuk selalu dibicarakan. Tidak terkecuali di lingkungan tempat saya kerja, yaitu sekolah swasta di sebuah kota. Di sini saya sering kali terlibat entah langsung atau tidak langsung menjadi pengamat beberapa kisah cinta. Entah yang berujung lanjut setelah lulus atau kisah patah hati yang juga menjadi pelengkapnya.      Kali ini saya teringat ada momen unik setelah menggulir media sosial saya. Saya melihat salah satu siswi tempat saya bekerja mengunggah foto kebersamaannya dengan cowok yang berasal dari sekolah yang beda, namun masih satu komplek karena dalam lingkup yayasan yang sama. Siswi tersebut saat ini berada di tingkat dua atau kelas XI di program keahlian yang biasa mengurus pasien. Dia merupakan sosok yang aktif berorganisasi karena beberapa waktu yang lalu menjadi ketua panitia kegiatan peringatan HUT ke-79 RI tahun 2024 di sekolah. Di masa-masa itu, dia banyak menghab...

Cerita Sukses sudah Mainstream, Saatnya Saya Cerita Kegagalan Kuliah S2 Bioteknologi

Karena sudah banyak yang menceritakan kisah kesuksesannya, entah di bidang akademik, bisnis, dan lain-lain, boleh gak kalau saya cerita kegagalan aja. Biar beda gitu. Hehe. Yap, saya mau cerita kegagalan kuliah S2 bioteknologi di Ubaya. Berawal dari informasi yang diberikan oleh temen seperjuangan di S1 biologi unair, yaitu Arif di bulan April 2024 beberapa waktu setelah lebaran. Ada beasiswa guru masa depan yang diberikan oleh Ubaya dengan syarat masa kerja saja. Setelah dapet narahubung dari pihak Ubaya dan S2 bioteknologi Ubaya, gas tanya-tanya tentang beasiswa, sistem kuliah jarak jauh (karena saya kerja di Balikpapan dan kampusnya di Surabaya) ternyata ada pencerahan. Ohh iya, sistem pendaftaran beasiswa guru masa depan Ubaya ini daftar sebagai mahasiswa reguler dulu. Bayar formulir dan ikuti petunjuk. Lalu sambil ajukan beasiswa lewat link google form dan lengkapi berkas-berkasnya. Setelah berkas masuk, dapat informasi untuk wawancara dengan dekan Fakultas Teknobiologi Ubaya dan ...

Omongan Murid yang Terngiang-ngiang di Benak Saya Sampai Saat Ini

Kapan hari tiba-tiba terngiang-ngiang perkataan murid ke saya. Dia bilang, "Semangat ya pak buat ngajar dan apapun kerjaanya." Langsung saya terkejut dan bilang, "wah tumben ada murid yang ngucapin gini. Biasanya saya yang menyemangati murid gitu." Si murid itu bilang, "iya pak, gantian. Sesekali murid yang menyemangati gurunya." Wah terharoe saya mendengarnya.  Kata-kata itu datang dari Madina Rahma Dewi, anak wali saya generasi 3, yaitu angkatan 2024-2027. Nah, bersama dengan momen tersebut, saya ingat-ingat kembali beberapa pernyataan dari murid yg berkesan dan terngiang-ngiang di benak saya sampai sekarang. Kita mulai dari "Bapak nah, muridnya banyak" - Dilia Fransiska, Farmasi Skakes 2017-2020. Merujuk pada saat itu anak-anak sering manggil-manggil saya ketika lewat. Terus Dilia dan kawan-kawannya ini yaa nunggu giliran gitu, entah mau foto bareng atau pas mau ngajar. Hehe. kalau gak salah ya.. Jadi pernyataan Dilia tersebut seakan-akan meny...