Langsung ke konten utama

Ucapan Selamat dan Apresiasi tidak Hanya Milik Para Pemenang/Juara Kompetisi

Di lingkungan sekitar saya yang merupakan basis pendidikan, sering kali ucapan selamat atau apresiasi hanya diberikan kepada para pemenang sebuah kejuaraan/kompetisi. Biasanya ucapan tersebut muncul setelah selesai pengumuman kepada para pemenang. Terkhusus para pendidik (guru) yang berada di lingkup sekolah, maka biasanya ucapan selamat keluar untuk diberikan kepada murid yang memenangkan kejuaraan atau sesama rekan guru yang telah berhasil mencapai juara pada lomba dan sejenisnya. Hal tersebut memang wajar. Ya namanya pemenang, yang mana dalam usaha untuk mencapainya pastilah membutuhkan upaya yang sangat besar. Mulai dari berlatih dalam mempersiapkan diri, berkorban waktu, pikiran, tenaga, bahkan ada yang dengan modal/biaya pribadi. Saat yang dinanti akhirnya kesampaian, yaitu memperoleh kemenangan atau juara, maka wajar bahwa hal tersebut akhirnya mengundang apresiasi dari berbagai pihak. Apresiasi untuk para pemenang merupakan hal yang wajar di mana sebuah capaian tersebut memang patut untuk dirayakan.

Namun, saya mencoba untuk memberi perspektif atau sudut pandang lain terhadap hal yang bersifat ucapan selamat atau apresiasi. Kita terbiasa untuk mengapresiasi capaian-capaian besar yang diperoleh orang dan memang hal tersebut terbiasa dilakukan, tapi apakah pernah kita mencoba apresiasi hal kecil yang merupakan capaian seseorang? Bahwasanya di dunia ini ada orang yang telah berupaya sekuat tenaga untuk mencapai suatu hal dalam hidupnya, ikut kompetisi berkali-kali juga namun belum pernah merasakan gelar juara, bahkan mengerahkan usaha yang sama juga dengan para pemenang seperti yang disampaikan tadi, namun belum beruntung untuk meraih gelar juara. Terkhusus untuk hal pendidikan, kita coba untuk melihat subjek utama yang dikenai pendidikan yaitu para murid. Mereka diajarkan banyak hal dan beberapa kali menerapkan sistem kompetisi atau kejuaraan dalam masa pendidikannya. Barang kali di antara mereka akhirnya ada yang meraih gelar juara di sebuah bidang dan mendapatkan banyak tepuk tangan (terutama dari guru) atas hal tersebut, namun berapa banyak tepuk tangan yang mereka dapat pula (terutama dari guru) atas hal kecil yang sudah diusahakan dengan keras oleh mereka?

Hal kecil yang dimaksud di sini mungkin relatif, karena bisa saja menjadi hal besar bagi para murid. Misalnya, keberanian untuk menyampaikan pendapat di depan umum. Saat ini, banyak pelajar merasa kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat di depan umum karena banyak hal. Ada yang merasa takut untuk dihakimi pendapatnya. Ada yang merasa jika nanti salah, nanti teman-temannya akan mengingat kesalahannya terus dan bisa menjadi celah untuk melakukan perundungan, dan lain-lain. Maka, guru sebagai pihak yang hampir tiap hari melakukan interaksi dengan murid harus memahami dengan benar perkembangan para muridnya. Bisa jadi ada perkembangan kecil yang dicapai oleh murid dan patut untuk dirayakan dan diapresiasi, meskipun hal tersebut bukann pencapaian besar seperti gelar juara dan sebagainya. Saya rasa apresiasi ringan dari guru seperti mengajak tepuk tangan murid-murid di kelas kepada salah satu murid yang mengemukakan pendapatnya dapat membuat rasa nyaman bagi seluruh penghuni kelas, terkhusus yang berani mengungkapkan pendapat agar kegiatan tersebut dapat diteruskan ke depannya. Murid akan tertanam di benaknya bahwa, "ohh guruku ini mengapresiasi langkah kecil dan membuat teman-teman di kelasku mendukungku, aku jadi merasa nyaman ketika mencoba mengungkapkan pendapat." Jika hal tersebut dilakukan secara konsisten dan rutin, bukan tidak mungkin perkembangan atau capaian kecil tersebut bisa terakumulasi dan terus membesar. Entah menjadi apa nantinya, setidaknya sudah dimulai dengan sebuah apresiasi terhadap hal yang kecil.

Untuk itulah, saya pribadi biasanya sering memonitor atau memantau kegiatan para murid baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Walau kesannya mungkin ada yang beranggapan negatif seperti dianggap mencampuri urusan pribadi murid atau anggapan negatif lainnya, tapi saya berusaha mengabaikan anggapan negatif tersebut. Kenapa? Iya karena tadi. Saya coba berfokus untuk menemukan capaian-capaian para murid walau itu tidak termasuk sesuatu hal yang besar seperti menjuarai kompetisi. Saya mencoba turun langsung untuk melihat bahwa ada murid yang punya potensi mengembangkan bisnis, minat dan bakat di bidang seni, bahkan kemampuan berbicara di depan publik, daya kritis, hingga sekedar murid yang berkelakuan baik walau tidak punya capaian apa-apa. Saya mencoba terjun menjelajahi dunia para murid dan apa saja yang sedang diperjuangkan oleh mereka. Barangkali kegiatan saya tersebut mendapatkan hasil berupa murid yang mendapat perhatian terhadap minat dan bakatnya untuk dikembangkan menjadi capaian prestasi. Beberapa di antaranya mungkin tidak cocok atau sepaham dengan saya. Tapi tidak apa, karena saya terus berusaha membuka ruang-ruang diskusi, ruang-ruang kolaborasi, baik dengan murid, rekan sejawat dengan tujuan utama ya tentu saja sejalur dengan tujuan pendidikan nasional secara umum.

Mungkin tulisan ini juga merupakan upaya saya untuk memberi pandangan bahwa beginilah saya. Yang mencoba untuk membuka ruang pandangan bahwa di kehidupan pendidikan yang sangat beragam, terkhusus dunia murid ini ada beberapa capaian besar yang sering dirayakan oleh mayoritas orang, namun sedikit saja mungkin yang memiliki frekuensi pemikiran seperti saya. Yang mencoba untuk mengapresiasi hal-hal kecil yang sudah diusahakan oleh para murid. Sekadar mereka akhirnya bisa menyelesaikan soal yang mudah, sekadar mereka akhirnya menjadi lebih semangat bersekolah dan menuntut ilmu, sekadar mereka menjadi pribadi yang lebih baik sekian persen daripada sebelumnya. Barangkali setelah tulisan ini akan muncul para pemerhati pendidikan dan pembaca yang lebih terbuka untuk memberikan apresiasi terhadap apapun pencapaian, baik besar maupun kecil di sekitarnya. Itu harapan yang tinggi. Tapi, di balik tulisan saya yang kecil ini, boleh juga kan saya punya harapan tinggi? Mari kita lihat nanti.

Balikpapan, 31 Juli 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Cowok yang Menaruh Perasaan pada Teman Sesama Anggota Ekstrakurikuler

Kisah cinta di masa muda selalu menarik untuk dibahas. Berbagai macam karya baik berupa cerpen, novel, pentas drama, film, musik selalu menarik minat jika bertemakan kisah percintaan di masa muda, terutama masa sekolah. Para pembaca pasti masih terngiang-ngiang lagu soundtrack film Dilan, atau agak mundur sedikit ada kisah Ada Apa dengan Cinta? dan mundur lagi ada kisah Galih dan Ratna, Lupus, dan beberapa kisah lainnya. Semuanya mengandung kisah percintaan di masa muda terutama masa sekolah. Saat ini saya bekerja sebagai guru di SMK swasta dan di sini saya juga menemui banyak kisah percintaan para siswa. Biasanya kisah cinta itu tumbuh dalam lingkup ekstrakurikuler yang sama, organisasi (OSIS/MPK), maupun cinta dalam sekelas. Faktor-faktor yang saya sebut tadi merupakan pengaruh terbesar terjadinya kisah cinta yang saling menerima atau tidak bertepuk sebelah tangan, yaa walau sebagian cintanya juga ada yang tidak terbalas. Namun, faktor kebersamaan dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler...

Jika Usahamu Gagal di Tahap Pertama, Coba terus Sampai Berhasil: Sebuah Perjuangan Cinta di Masa Sekolah

     Anak muda pada tahun 2000-an mayoritas sudah pernah menonton film Catatan Akhir Sekolah. Di film tersebut, terdapat adegan dari seorang cowok culun yang setiap harinya membawa bunga untuk menyatakan cinta pada cewek idamannya. Walaupun si cewek sering menghindar, namun perjuangan si cowok tetap berlanjut. Dicoba terus, sampai akhirnya di malam perpisahan sekolah, bunganya diterima si cewek, tanda bahwa perjuangan untuk mendapatkan pujaan hati berhasil. Film tersebut secara tidak langsung menjadi gambaran bahwa kisah percintaan di masa sekolah begitu menarik, karena ada usaha keras yang tidak selalu mulus. Hingga akhir ( ending ) bahagia yang memuaskan penonton. Namun, di dunia nyata apakah ada yang seperti itu? Jawabannya tentu saja ada yang iya, ada yang tidak karena tergantung orang dan kisahnya masing-masing. Namun, saya menemui kisah keberhasilan mirip dari apa yang terjadi di film Catatan Akhir Sekolah tersebut.      Kisah pertama ini dari sudut p...

Kedua Mantan yang Layu, Kini telah Tumbuh dan Berkembang

     Cinta di masa muda, terutama di masa sekolah memang memiliki banyak pesona untuk selalu dibicarakan. Tidak terkecuali di lingkungan tempat saya kerja, yaitu sekolah swasta di sebuah kota. Di sini saya sering kali terlibat entah langsung atau tidak langsung menjadi pengamat beberapa kisah cinta. Entah yang berujung lanjut setelah lulus atau kisah patah hati yang juga menjadi pelengkapnya.      Kali ini saya teringat ada momen unik setelah menggulir media sosial saya. Saya melihat salah satu siswi tempat saya bekerja mengunggah foto kebersamaannya dengan cowok yang berasal dari sekolah yang beda, namun masih satu komplek karena dalam lingkup yayasan yang sama. Siswi tersebut saat ini berada di tingkat dua atau kelas XI di program keahlian yang biasa mengurus pasien. Dia merupakan sosok yang aktif berorganisasi karena beberapa waktu yang lalu menjadi ketua panitia kegiatan peringatan HUT ke-79 RI tahun 2024 di sekolah. Di masa-masa itu, dia banyak menghab...