Melakukan Penyegaran dalam Kegiatan Literasi untuk Memberi Ruang Nyaman Bagi Murid untuk Mempertanyakan Kehidupan
Hari ini saya mencoba berinovasi dalam kegiatan rutin literasi pagi. Sebenarnya bukan inovasi besar juga. Cuma saya mencoba untuk menerapkan sesuatu yang berbeda dalam upaya meningkatkan kualitas kegiatan literasi di sekolah dan secara umum. Biasanya kegiatan literasi di sekolah dimulai setelah berdo`a (dzikir pagi) dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yaitu membaca buku sekitar beberapa lembar, kemudian menuliskan review yang dibaca hari ini pada jurnal harian. Tambahan yaitu adanya tanya jawab kepada beberapa murid terpilih untuk mengecek dan mengetes apakah dia benar-benar memahami isi bacaan yang telah dibaca atau cuma sekadar membaca.
Kegiatan ini berlangsung rutin tiap pagi di sekolah, kecuali saat upacara dan kegiatan pengembangan diri pagi keagamaan maupun kesenian. Saya mencoba untuk sedikit keluar dari pakem tersebut hari ini. Hal tersebut saya lakukan untuk membuat "penyegaran" terhadap kegiatan literasi di sekolah, terkhusus di kelas yang saya bina, yaitu anak wali saya Pagi tadi saya membuat murid saya untuk balik bertanya kepada saya. Jadi biasanya saya yang menanyakan isi bacaan, maupun hal-hal lain tentang literasi ke anak-anak, namun kali ini saya berganti peran menjadi sosok yang ditanya. Saya buka dengan kalimat, "ayo silakan anak-anak, hari ini gantian kalian yang menanyakan apapun ke saya, ya terkhusus mengenai literasi yaa.. Tapi saya tidak membatasi deh. Bebas mau nanya apa saja. Jika saya bisa menjawabnya maka yaa saya jawab. Jika memang saya belum bisa menjawabnya, yaa mungkin disimpan dulu, sambil jalan saya cari jawaban. Nanti jika saya sudah menemukan jawabannya akan saya beritahukan." Di situ saya mencoba memberikan ruang yang nyaman bagi para murid untuk mencoba mengemukakan pertanyaan-pertanyaan ke gurunya.
Hal ini seperti membuka ruang diskusi publik yang mungkin jarang dilakukan karena sudah terbentuk kebiasaan pembelajaran yaitu murid menunggu penyampaian dari guru, selanjutnya murid diberikan pertanyaan dan harus bisa menjawab. Kali ini saya coba keluar dari pakem tersebut. Karena di situlah letak dari esensi sekolah sebagai ruang pendidikan dan bertemunya pemikiran-pemikiran manusia. Saya coba bereksperimen dengan ide awal, "Anak-anak sebenarnya punya pertanyaan di benaknya yang ingin diketahui jawabannya ga yaa?" Kan saya gurunya, harusnya bisa dong bertanya apapun ke saya, setidaknya ada interaksi dulu dan menumbuhkan inisiatif untuk mau bertanya dan terutama mengenai hal-hal di sekitarnya. Hasilnya memang anak-anak agak kaget. Di awal-awal saya melontarkan pengantar supaya mereka menanyakan sesuatu, maka tampak wajah bingung dan merasa aneh. Namun, saya tidak boleh kehabisan akal untuk terus melanjutkan kegiatan. Saya coba pancing-pancing dengan meyakinkan anak-anak bahwa ini ruang aman untuk bertanya. Bebas dan gantian karena selama ini kan saya terus yang nanya-nanya. Bagaimana kalau gantian, anak-anak saja yang menanyakan sesuatu.
Seperti zaman dahulu di mana anak-anak butuh guru sebagai sumber informasinya untuk berbagai hal. Saya coba panggil beberapa nama juga yang awalnya malu-malu untuk bertanya. Alhamdulillah walaupun masih agak canggung, timbul beberapa pertanyaan, seperti buku apa yang saya baca, apa isinya, lalu berapa kata yang ada di halaman buku yang saya baca. Pertanyaan masih mengenai literasi dan buku. Masih bisa saya jawab, yaitu saya membaca buku mengenai the psychology of emotional alias psikologi emosi di mana saya mencoba mempelajari teori tentang emosi di tubuh manusia. Nah, untuk yang menghitung kata di buku ini sebenarnya saya agak terpojok karena jika memang dituruti, maka harus hitung manual kata yang ada di halaman buku dong. Namun, saya teringat pembelajaran di masa sekolah saya dulu untuk menghitung rata-rata kata yang ada di halaman buku dengan menjumlah kata yang ada di halaman secara menyamping, dikalikan dengan jumlah kata yang tersusun ke bawah. Ya memang tidak menunjukkan data asli, namun untuk memperkirakan saja sudah lumayan lah yaa.
Tiba ke pertanyaan berikutnya, ternyata saya mendapatkan pertanyaan mengenai kehidupan pribadi dan bidangnya masih akademis, di mana saya mendapatkan pertanyaan jika nanti semisal jadi dosen, maka lebih pilih menjadi guru atau dosen? Wah, ternyata di situ diri saya merasa bahwa "wow, selama ini ada juga ya yang memperhatikan background akademik dan berpikir agak jauh gitu mengenai karir saya. Langsung saya jawab bahwa ya sementara saya sekarang menjadi guru, tapi memang jika ada kesempatan menjadi dosen yaa tidak apa. Tapi emang ada contoh dari rekan kerja yang melaksanakan dua peran tersebut sekaligus dan menurut saya itu keren. Nah, tiba ke pertanyaan berikutnya, masih mengenai kehidupan pribadi dan ternyata menyentuh di bagian pekerjaan saya, yaitu pertanyaan mengenai kok bisa saya yang berlatarbelakang lulusan biologi, mengajar PPKn? Saya juga tidak menyangka ternyata murid juga ada yang memperhatikan bagian ini.
Mungkin saya terlena menganggap anak-anak hanya sekadar datang ke sekolah, belajar, menerima apa yang disampaikan oleh guru, mengerjakan tugas, dapat nilai, dan ya sudah gitu. Saya salut terhadap beberapa murid yang ingin lebih dengan banyak memperhatikan sekitarnya, termasuk kehidupan gurunya (dalam konteks yang positif). Dalam hal ini saya menjelaskan bahwa di dunia kerja, apalagi di era saat ini, maka sangat diperlukan sifat yang adaptif yang tidak hanya bergantung pada satu kemampuan saja. Karena lowongan kerja semakin susah, di saat yang bersamaan ada banyak lulusan dengan bidang yang sama. Maka, penerima lamaran kerja pasti memilih yang terbaik di antara banyaknya pelamar yang masuk kan? Nah, bagaimana menjadi rekrutan yang dilirik? Salah satu yang bisa diupayakan adalah menambah kemampuan atau skill. Karena perusahan pasti menyukai karyawan yang punya kelebihan di berbagai bidang.
Di dunia kerja yang sangat dinamis ini, perusahaan bisa jadi membutuhkan karyawan yang bisa sekalian nyambi sebagai MC, atau pengisi acara, menjadi tim manajemen acara, make up artist, dan lain-lain. Begitulah saya menceritakan gambaran dunia kerja yang juga terjadi di diri saya, di mana saya harus beradaptasi dengan tantangan yang ada di dunia keguruan waktu itu. Saya ditawari mengajar mapel lain, dan saya hanya menganggap itu tantangan dan bisa dipelajari sambil jalan. Saya membayangkan jika menolak tawaran mengajar, mungkin saya akan dipandang "ya segitu aja berarti skill-nya. Berarti nanti tidak usah diberikan pekerjaan-pekerjaan lain lagi dan kalau ada yang lebih bagus yaa bisa jadi tinggal dibuang saja." Maka dari itu saya mencoba bertahan dengan terus belajar untuk mengajar dan mendidik, termasuk di luar bidang perkuliahan saya. Begitulah saya menjelaskan ke anak-anak yang penasaran dengan dunia ini. Akhirnya kegiatan literasi tersebut menjadi agak "menghangat" ketika saya melihat raut wajah anak-anak mulai penasaran, dengan berbisik ngobrol ke sesama teman, maupun masih ada uneg-uneg yang mungkin ingin disampaikan namun terhalang waktu dan mungkin rasa kepercayaan diri, dan lain-lain.
Saya akhiri dengan, ayo masih kurang panas ini. Masa pertanyaan cuma gitu doang? Cari dong pertanyaan-pertanyaan yang lebih berbobot gitu biar suasananya semakin panas? Bebas kok. Ayo seminggu yaa nyari. Pekan depan saya tunggu nih. Sengaja saya berikan tantangan seperti itu dengan harapan anak-anak di pekan depan akan lebih siap untuk mengemukakan pertanyaan apapun yang ada di benaknya. Harapannya sih tidak banyak, cuma langkah kecil dengan memberikan anak-anak kesempatan dan ruang aman untuk bertanya, ke depan bisa membuat anak-anak mengasah daya pikir kritisnya dan membuat budaya bahwa tidak ada yang salah dari mempertanyakan kehidupan ini.
Memang tidak harus menemukan jawabannya langsung, namun di situlah proses berpikir, belajar, dan menemukan kesenangan dalam diskusi, bertukar pikiran yang akhirnya membuat kehidupan ini lebih berwarna dan banyak sekali variasi-variasi. Adanya pengalaman orang lain bisa jadi jawaban terhadap permasalahan yang sedang menerpa. Maka dari itu, pentingnya guru untuk memberi ruang bagi murid agar merasakan adanya "ohh di sini saya bisa bebas menemukan jawaban dari apapun permasalahan dan keingintahuanku." Di situlah harapannya bisa menstimulus inisiatif-inisiatif belajar lainnya dan ke depan murid bisa belajar dengan sadar bahwa hal tersebut memang sesuatu yang bermakna.
Semoga dari langkah kecil ini dapat membuat perbaikan terutama di bidang literasi maupun pendidikan pada umumnya. Terkadang di kehidupan guru ini tidak perlu perencanaan yang muluk-muluk dan seabrek itu. Cukup dengan logika sederhana, selama ini guru terus yang nanya, apa sesekali murid aja ya yang nanyain gurunya. Dan ternyata dari permulaan kecil tersebut bisa muncul banyak variasi ide, maupun ragam pembelajaran. Itulah memang seninya dalam dunia pendidikan. Menemukan cara mengajar dan mendidik Jika ada kesalahan, evaluasi, refleksi, perbaiki seterusnya. Nasib pendidikan Indonesia masih bisa diperjuangkan. Jika tidak dengan cara yang besar, mungkin bisa dimulai dari inisiatif-inisiatif kecil. Mulai dari ruang kelas, ruang guru, di rumah, dan di mana saja. Salam pendidikan. Salam guru.
Komentar
Posting Komentar