Langsung ke konten utama

Mendengar Keluhan Siswa yang Menjadi Aktifis Kegiatan Organisasi Sekolah

Beberapa waktu yang lalu iseng liat story siswi yang pada intinya, dia merepost konten tentang guru yang lebih menghargai prestasi akademik dibanding siswa yang sibuk berkegiatan di non-akademik. Sebagai informasi, siswi ini adalah aktifis ekskul di sekolah dan sering meninggalkan jam pelajaran untuk memimpin timnya lomba, maupun mengikuti berbagai kegiatan kesiswaan lainnya. Dia sekarang sudah lulus dan melalui beberapa kejadian tidak menyenangkan terkait kegiatannya di luar akademik.

Dia menceritakan bahwa selama belajar di sekolah, dia sering tidak masuk dan dianggap siswa yang malas oleh salah satu guru, padahal dia meninggalkan kelas untuk keperluan mewakili sekolah dalam lomba, lalu ada kegiatan pengembangan diri lainnya seperti kepanitiaan, seminar, dan lain-lain. Hal tersebut membekas dalam benaknya, sehingga dia merasa bimbang karena harusnya menjadi kebanggaan sekolah, namun ada salah satu oknum guru yang membuat mentalnya menjadi jatuh ketika masuk kelas.

Dia menceritakan bahwa, guru tersebut tidak mau tahu mengenai kegiatan sekolah di luar jam pembelajarannya. Yang beliau anggap penting hanyalah pembelajaran di kelas berikut tugas-tugas sekolah yang diberikan. Kegiatan di luar pembelajaran bahkan dianggap tidak penting karena tidak terkait di dunia kerja nanti. Akibatnya antusias atau minat belajar siswi tersebut menjadi turun, terkhusus pada mapel yang diajarkan oleh guru tersebut. Ada satu kejadian yang mana dia menjadi malas mengerjakan tugas karena sama aja ngerjakan atau gak ngerjakan tugas nanti malah organisasinya yang dibawa-bawa.

Melihat fenomena tersebut, saya merasa miris. Kok bisa-bisanya di era sekarang, masih ada guru dengan pola pikir yang sempit seperti itu ya? Apakah guru itu hanya memandang sekolah ini sebatas ilmu yang dipelajari di kelas? Bagaimana jika terdapat permasalahan hidup lainnya yang tidak terbahas di mata pelajaran dan membutuhkan pengalaman langsung untuk memecahkan masalahnya? Saya masih kurang paham dengan pola pikir guru tersebut yang menganggap bahwa hal-hal yang dilakukan oleh siswa dengan label kepanitiaan, aktifis organisasi, dan pegiat lomba dibilang tidak berguna atau tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh siswa-siswi aktifis tersebut mempunyai manfaat yang bisa digunakan di dunia kerja.

Contoh sederhananya di kepanitiaan belajar koordinasi dan tanggung jawab antar divisi yang nantinya memudahkan untuk berinteraksi di dunia kerja yang serba cepat. Lalu, saya yakin sekarang di tiap kantor atau perusahaan, pasti membutuhkan karyawan/karyawati dengan skill tambahan. Misalnya saja, perusahaan/kantor mau mengadakan acara peringatan HUT RI atau ultah kantor, pasti mereka membutuhkan orang-orang dengan skill keorganisasian untuk dapat mengerjakan proyek tersebut. Bagaimana jika tiap kantor hanya berisi orang-orang yang cuma belajar di kelas? Saya yakin pasti akan susah bagi kantor tersebut membuat acara. Paling bayar EO jika memang punya dana.

Pernyataan saya bukan berarti menganggap siswa yang cuma belajar di kelas tidak penting ya. Maksudnya semua punya keunggulan masing-masing. Siswa yang cuma belajar di kelas secara umum unggul di bidang kecepatan untuk mengotak-atik data, menyelesaikan pekerjaan khas kantoran dengan tipe rutinitas, dan sebagainya. Namun, siswa anak organisasi atau aktifis kegiatan maka unggul di pengalaman interaksi dengan orang, hingga punya relasi yang luas. Keduanya sama-sama dibutuhkan di dunia kerja. Nah, tendensi oknum guru tadi yang menyinggung bahwa kegiatan di luar kelas dianggap tidak ada gunanya di dunia kerja akan saya lawan dengan pernyataan saya barusan.

Jika mau adu bukti, maka kita lihat saja alumni sekolah dengan latar belakang keorganisasian atau pernah ikut lomba (tentunya yang memang benar-benar mengikuti dan menjalankan amanah dengan baik). Pastinya ada perbedaan bagaimana pola pikirnya, hingga bagaimana cara bekerjanya dan menyelesaikan tiap masalah yang ada di dunia kerja. Sejenak saya juga melihat latar belakang oknum guru tersebut, yakni beliau pernah mengakomodir salah satu kegiatan sekolah yang besar. Saat itu saya melihat bahwa kegiatan tersebut terkesan hanya asal jadi, yang penting terlaksana dan memenuhi program kerja yang dicanangkan sekolah. Tidak ada bekas kesan yang mendalam bagi saya. Saya lihat juga ekspresi para siswa waktu itu tampak tidak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Maka, saya bisa melihat bahwa orientasi dan pola pikir guru tersebut adalah kerja yaa sekedar kerja. Apapun tugas yang diberikan oleh sekolah atau yayasan yauda yang penting dilaksanakan atau dikerjakan. Yang penting selesai. Entah apapun kesan yang diberikan oleh pihak luar yaa silakan, bodo amat, yang penting kerjaan selesai.

Mungkin begitu kali yaa pola pikirnya. Pantas saja, kegiatan kesiswaan seperti organisasi dan lomba menjadi bukan prioritas bagi dirinya karena pola pikir organisasi pasti berlawanan dengan apa yang baru saja saya sebutkan di atas. Anak organisasi haruslah terbiasa memikirkan bagaimana kegiatan berjalan, mulai dari dasar atau esensi mengapa kegiatan ini harus dilaksanakan, apa tujuannya, sampai pada apa output atau hasil yang nantinya dirasakan. Semuanya memang ribet, tapi ya begitulah jika hidup ingin berkembang. Karena manusia diberikan akal pikiran untuk mengupayakan semua hal, maka dari itu haruslah terus diasah, tidak hanya kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Namun bisa juga didapatkan dari belajar di luar kelas.

Saya menghormati orang yang bekerja dengan tipe kerja yang penting selesai. Itu tidak jelek kok. Kan bagus itu kerjaan selesai, daripada tidak selesai malah jadi beban atau bahayanya merembet ke kerjaan rekan dan image perusahaan. Namun, poin saya di sini adalah jika pola pikir guru yang seperti itu merembet ke semua rekan guru, terus representasi tersebut menjadi panutan siswa, bagaimana pendidikan kita ini nantinya? Ya paling-paling cuma mencetak tenaga kerja yang siap mengisi pabrik/industri tanpa memikirkan bagaimana pengembangan diri dan pengembangan industri itu ke depannya. Maka dibutuhkan para pendobrak yang punya pola pikir lebih dari sekedar mata pelajaran di kelas. Butuh daya kritis orang-orang yang terbiasa berinteraksi dengan banyak orang, berinteraksi dengan permasalahan-permasalahan kontekstual di masyarakat, di lingkungan dengan segala keanekaragamannya, sampai pada menemukan solusi untuk pengembangan instansi di tempat dia kerja, dan menuju perbaikan keberlanjutan.

Jadi, saran saya bagi rekan-rekan guru dengan tipe pola pikir seperti yang saya bahas adalah, tolong buka pikiran lebih luas lagi. Bukankah guru dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan? Memang pola pikir awal kita haruslah membimbing anak-anak supaya lulus siap diterima di pekerjaan sesuai bidang yang dipilihnya di sekolah. Namun, bukankah tugas kita juga untuk dapat mengeksplorasi minat dan bakat mereka seluas-luasnya? Siapa tau mereka punya potensi lain yang layak. Siapa tau kegiatan di luar kelasnya jika dikelola dengan benar dapat memupuk rasa tanggung jawabnya lebih besar. Dia dapat mengatur waktu lebih baik karena merasa ada kegiatan di luar. Jika memang dia salah, ya salahkan saja, namun penting untuk memperhatikan dengan seksama kata-kata yang dikeluarkan guru agar tidak menjadi memar di hati para siswa. Mungkin saya juga pernah khilaf ketika memarahi siswa, dan untuk itu mohon maaf kiranya saya pernah menyinggung keorganisasian ketika pembelajaran.

Jika memang siswa tersebut ketinggalan mata pelajaran karena sering dispensasi keluar sekolah, maka berikan saja tugas dengan tambahan waktu. Jika mampu menyelesaikan bareng dengan temannya yang tidak ikut organisasi, betapa kerennya dia memiliki kemampuan akademik dan non-akademik yang sejalan. Namun, jika ia menyelesaikannya molor, ya berikan saja kelonggaran. Jika ada siswa lain protes, tinggal dijelaskan saja ada beberapa orang memiliki tanggung jawab tambahan. Lalu dengarkan pendapat siswa.

Semoga sejumlah tulisan dan opini saya dapat dipahami dengan baik, oleh rekan-rekan pembaca semua. Apabila ada salah kata dan tulisan, saya mohon maaf. Tulisan saya tidak bermaksud menyudutkan salah satu oknum, namun lebih kepada tujuan untuk kebaikan dan perbaikan yang berkelanjutan, terutama di bidang pendidikan. Salam guru. Hidup pendidikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perjuangan Cowok yang Menaruh Perasaan pada Teman Sesama Anggota Ekstrakurikuler

Kisah cinta di masa muda selalu menarik untuk dibahas. Berbagai macam karya baik berupa cerpen, novel, pentas drama, film, musik selalu menarik minat jika bertemakan kisah percintaan di masa muda, terutama masa sekolah. Para pembaca pasti masih terngiang-ngiang lagu soundtrack film Dilan, atau agak mundur sedikit ada kisah Ada Apa dengan Cinta? dan mundur lagi ada kisah Galih dan Ratna, Lupus, dan beberapa kisah lainnya. Semuanya mengandung kisah percintaan di masa muda terutama masa sekolah. Saat ini saya bekerja sebagai guru di SMK swasta dan di sini saya juga menemui banyak kisah percintaan para siswa. Biasanya kisah cinta itu tumbuh dalam lingkup ekstrakurikuler yang sama, organisasi (OSIS/MPK), maupun cinta dalam sekelas. Faktor-faktor yang saya sebut tadi merupakan pengaruh terbesar terjadinya kisah cinta yang saling menerima atau tidak bertepuk sebelah tangan, yaa walau sebagian cintanya juga ada yang tidak terbalas. Namun, faktor kebersamaan dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler...

Jika Usahamu Gagal di Tahap Pertama, Coba terus Sampai Berhasil: Sebuah Perjuangan Cinta di Masa Sekolah

     Anak muda pada tahun 2000-an mayoritas sudah pernah menonton film Catatan Akhir Sekolah. Di film tersebut, terdapat adegan dari seorang cowok culun yang setiap harinya membawa bunga untuk menyatakan cinta pada cewek idamannya. Walaupun si cewek sering menghindar, namun perjuangan si cowok tetap berlanjut. Dicoba terus, sampai akhirnya di malam perpisahan sekolah, bunganya diterima si cewek, tanda bahwa perjuangan untuk mendapatkan pujaan hati berhasil. Film tersebut secara tidak langsung menjadi gambaran bahwa kisah percintaan di masa sekolah begitu menarik, karena ada usaha keras yang tidak selalu mulus. Hingga akhir ( ending ) bahagia yang memuaskan penonton. Namun, di dunia nyata apakah ada yang seperti itu? Jawabannya tentu saja ada yang iya, ada yang tidak karena tergantung orang dan kisahnya masing-masing. Namun, saya menemui kisah keberhasilan mirip dari apa yang terjadi di film Catatan Akhir Sekolah tersebut.      Kisah pertama ini dari sudut p...

Kedua Mantan yang Layu, Kini telah Tumbuh dan Berkembang

     Cinta di masa muda, terutama di masa sekolah memang memiliki banyak pesona untuk selalu dibicarakan. Tidak terkecuali di lingkungan tempat saya kerja, yaitu sekolah swasta di sebuah kota. Di sini saya sering kali terlibat entah langsung atau tidak langsung menjadi pengamat beberapa kisah cinta. Entah yang berujung lanjut setelah lulus atau kisah patah hati yang juga menjadi pelengkapnya.      Kali ini saya teringat ada momen unik setelah menggulir media sosial saya. Saya melihat salah satu siswi tempat saya bekerja mengunggah foto kebersamaannya dengan cowok yang berasal dari sekolah yang beda, namun masih satu komplek karena dalam lingkup yayasan yang sama. Siswi tersebut saat ini berada di tingkat dua atau kelas XI di program keahlian yang biasa mengurus pasien. Dia merupakan sosok yang aktif berorganisasi karena beberapa waktu yang lalu menjadi ketua panitia kegiatan peringatan HUT ke-79 RI tahun 2024 di sekolah. Di masa-masa itu, dia banyak menghab...