Langsung ke konten utama

Pamitan Pulang dari Acara Kondangan karena Udah Maghrib dan Anak Gadis Gak Boleh Pulang Malam-malam

Suatu sore sepulang bekerja, Pak Aldino bersama beberapa rekan kerjanya bergegas mendatangi undangan resepsi pernikahan guru yang pernah bekerja di sekolah. Karena acara diadakan di hari kerja, maka rombongan dari sekolah berangkat sore hari menuju ke lokasi acara. Sesampainya di lokasi, Pak Aldino bersama rekan kerja rombongan masuk ke lokasi, mengisi daftar tamu dan mendatangi mempelai yang ada di pelaminan. Pak Aldino yang berada di bagian belakang rombongan melihat bahwa para rekan-rekannya menyiapkan meja bundar dan menyusun kursi dengan maksud untuk duduk mengobrol sambil makan. Akhirnya Pak Aldino menuju ke lokasi stand makanan untuk mengambil Coto Makassar. Ternyata rekan-rekan kerja Pak Aldino ini hanya menata meja saja supaya pas untuk 9 orang. Setelah menata meja, rombongan bergegas untuk menyalami mempelai yang ada. Pak Aldino yang sudah memegang semangkuk Coto Makassar menjadi bingung karena tinggal disantap, ehh teman-teman ngajak untuk salam dulu. Pak Aldino mengira bahwa teman-teman langsung makan dulu sebelum salam-salaman. Barangkali perbedaan budaya dan salah tangkap maksud dari perbuatan.

Oke, beres kegiatan salam-salaman dengan mempelai dan foto bersama, rombongan tamu dari sekolah dan nyusul dari area dekat lokasi ini segera menuju ke meja yang sudah disiapkan tadi. Mereka menuju ke stand makanan untuk mengambil beraneka makanan. Pak Aldino sudah lahap dengan Coto Makassar-nya. Maklum, tadi selama di sekolah cuma makan bakso tanpa nasi dan bekerja keras selama seharian. Maka dari itu, Pak Aldino memanfaatkan waktu yang ada selama acara resepsi tersebut. Keburu nanti sibuk ngobrol ramah-tamah. Setelah semua selesai makan, maka tibalah waktu ramah-tamah. Pak Aldino tidak ketinggalan untuk nimbrung walaupun rekan-rekan kerjanya yang hadir di situ adalah para wanita, baik yang masih belum menikah maupun sudah berstatus ibu-ibu punya anak. Dari segi umur pun rekan kerja wanita Pak Aldino juga bervariasi, ada yang masih berusia 20-an, ada yang 30-an, 40-an, hingga usia paruh baya. Namun semuanya bisa nyambung saat melaksanakan obrolan di meja makan.

Obrolan di meja makan resepsi nikahan tersebut memakan waktu yang panjang hingga tak terasa langit pun semakin gelap. Pertanda petang dan maghrib tiba. Para rekan kerja wanita Pak Aldino tersebut bergegas untuk berpamitan kepada tuan rumah. Saat akan berpamitan, Pak Aldino memberi celetukan, "Ahh baru jam segini, kok kalian udah pada mau pulang sich? Masih sore ini." Rekan kerja wanita yang masih belum menikah menanggapinya, "Pak Aldino, anak gadis gak boleh pulang malam-malam yaa.." Mendengar jawaban tersebut, lalu Pak Aldino menanggapinya lagi, "Lah itu beberapa udah gak gadis lagi. Iya gadis, tapi beberapa tahun yang lalu, berarti boleh dong pulang malam." Mendengar jawaban Pak Aldino tersebut, rombongan pun tertawa dan segera ingin bergegas pulang saja dan tidak ingin lebih lama di meja tersebut bersama Pak Aldino.

Pak Aldino yang merasa ditinggalkan rombongan untuk pulang pun akhirnya bergegas juga untuk berpamitan ke tuan rumah. Ketika berpamitan, Pak Aldino mengatakan kepada tuan rumah, "Pak, Bu. Terima kasih yaa.. Saya pamit pulang dulu. Maklum, anak bujang gak boleh pulang malam-malam. Saya takut nanti dicariin mama, papa." Pernyataan tersebut mengundang tawa dari tuan rumah dan juga rombongan dari Pak Aldino yang bergegas ingin segera pergi menjauh dari Pak Aldino. "Lho bener kan? Khawatir juga saya ini sebenarnya kalau pulang malam. Kan saya masih anak mama papa." Ucap Pak Aldino yang menghampiri rombongannya yang melaju lebih cepat.

Manggar, Balikpapan, Jumat, 5 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedua Mantan yang Layu, Kini telah Tumbuh dan Berkembang

     Cinta di masa muda, terutama di masa sekolah memang memiliki banyak pesona untuk selalu dibicarakan. Tidak terkecuali di lingkungan tempat saya kerja, yaitu sekolah swasta di sebuah kota. Di sini saya sering kali terlibat entah langsung atau tidak langsung menjadi pengamat beberapa kisah cinta. Entah yang berujung lanjut setelah lulus atau kisah patah hati yang juga menjadi pelengkapnya.      Kali ini saya teringat ada momen unik setelah menggulir media sosial saya. Saya melihat salah satu siswi tempat saya bekerja mengunggah foto kebersamaannya dengan cowok yang berasal dari sekolah yang beda, namun masih satu komplek karena dalam lingkup yayasan yang sama. Siswi tersebut saat ini berada di tingkat dua atau kelas XI di program keahlian yang biasa mengurus pasien. Dia merupakan sosok yang aktif berorganisasi karena beberapa waktu yang lalu menjadi ketua panitia kegiatan peringatan HUT ke-79 RI tahun 2024 di sekolah. Di masa-masa itu, dia banyak menghab...

Cerita Sukses sudah Mainstream, Saatnya Saya Cerita Kegagalan Kuliah S2 Bioteknologi

Karena sudah banyak yang menceritakan kisah kesuksesannya, entah di bidang akademik, bisnis, dan lain-lain, boleh gak kalau saya cerita kegagalan aja. Biar beda gitu. Hehe. Yap, saya mau cerita kegagalan kuliah S2 bioteknologi di Ubaya. Berawal dari informasi yang diberikan oleh temen seperjuangan di S1 biologi unair, yaitu Arif di bulan April 2024 beberapa waktu setelah lebaran. Ada beasiswa guru masa depan yang diberikan oleh Ubaya dengan syarat masa kerja saja. Setelah dapet narahubung dari pihak Ubaya dan S2 bioteknologi Ubaya, gas tanya-tanya tentang beasiswa, sistem kuliah jarak jauh (karena saya kerja di Balikpapan dan kampusnya di Surabaya) ternyata ada pencerahan. Ohh iya, sistem pendaftaran beasiswa guru masa depan Ubaya ini daftar sebagai mahasiswa reguler dulu. Bayar formulir dan ikuti petunjuk. Lalu sambil ajukan beasiswa lewat link google form dan lengkapi berkas-berkasnya. Setelah berkas masuk, dapat informasi untuk wawancara dengan dekan Fakultas Teknobiologi Ubaya dan ...

Omongan Murid yang Terngiang-ngiang di Benak Saya Sampai Saat Ini

Kapan hari tiba-tiba terngiang-ngiang perkataan murid ke saya. Dia bilang, "Semangat ya pak buat ngajar dan apapun kerjaanya." Langsung saya terkejut dan bilang, "wah tumben ada murid yang ngucapin gini. Biasanya saya yang menyemangati murid gitu." Si murid itu bilang, "iya pak, gantian. Sesekali murid yang menyemangati gurunya." Wah terharoe saya mendengarnya.  Kata-kata itu datang dari Madina Rahma Dewi, anak wali saya generasi 3, yaitu angkatan 2024-2027. Nah, bersama dengan momen tersebut, saya ingat-ingat kembali beberapa pernyataan dari murid yg berkesan dan terngiang-ngiang di benak saya sampai sekarang. Kita mulai dari "Bapak nah, muridnya banyak" - Dilia Fransiska, Farmasi Skakes 2017-2020. Merujuk pada saat itu anak-anak sering manggil-manggil saya ketika lewat. Terus Dilia dan kawan-kawannya ini yaa nunggu giliran gitu, entah mau foto bareng atau pas mau ngajar. Hehe. kalau gak salah ya.. Jadi pernyataan Dilia tersebut seakan-akan meny...