Sore hari sepulang sekolah, tampak 2 siswi duduk di kantin. Mereka sedang menikmati makanan dan mengisi kembali energi untuk persiapan kegiatan ekskul bola voli. Saya duduk di sebelah mereka dan ngobrol ringan. Obrolan saya dan mereka berkisar seputar kehidupan sehari-hari hingga masuk ke topik nonton film. Siswi yang berada di dekat saya menceritakan bahwa dia sedang gemar nonton film drama romance remaja era 2000-an dan menanyakan ke saya mengenai film Ada Apa dengan Cinta yang hits.
Saya pun memberi beberapa informasi dan rekomendasi film sejenis. Saya bilang, "ada lho film remaja SMA romance tahun 2000-an yang bagus. Judulnya Catatan Akhir Sekolah. Nah di film itu ada adegan si cewek yang akhirnya luluh pas di momen-momen terakhir sekolah gitu. Selama masa sekolah ceritanya si cowok ini gak nyerah ngejar cintanya si cewek. Nah, pas momen malam perpisahan sekolah mereka, ehh akhirnya si cewek nerima cinta dari si cowok. Bagus kan?
Mendengar celotehan saya tersebut, siswi yang berada agak jauh dari saya ikut nimbrung. Awalnya dia hanya fokus makan. Tapi mendengar cerita yang saya sampaikan mengenai isi film Catatan Akhir Sekolah tadi, dia merasa ikut terlibat dalam obrolan saya bersama siswi yang meminta rekomendasi film tadi. Lalu, saya mencoba menghangatkan suasana dengan mengatakan bahwa itu adegan di film. Kan cerita fiksi gitu. Belum tentu kisah nyata. Tapi menginspirasi banget sih bagi cowok yang di masa sekolah gak nyerah ngejar cewek idamannya. Hehe.
Nah, mendengar pernyataan saya tersebut, siswi yang awalnya makan akhirnya ikut juga pembahasan. Dia mengatakan bahwa "iyaa tapi saya gak mau kalau akhirnya nerima dia karena kasian, Pak. Karena itu lebih sakit ketika dia tau yang sebenarnya. Jadi mending ya gak diterima sejak awal." Tanggapan dari siswi tersebut seakan paham alur obrolan yang saya bawa sejak menceritakan isi film Catatan Akhir Sekolah. Karena kebetulan ada kabar bahwa seorang cowok dari kelas lain menaruh perasaan terhadap terhadap cewek tadi.
Jadi ketika saya membahas isi film Catatan Akhir Sekolah yang mana ada kesan bahwa saya menyemangati agar si cowok tidak menyerah mengejar cinta si cewek idamannya, karena bisa jadi di saat-saat akhir masa sekolah si cewek bakal luluh dan mau menerima cintanya. Ternyata jawaban dan pernyataan cewek tadi masuk akal juga. Saya jadi merenung. Ohh benar juga yaa. Walau sekarang si cewek juga belum milik siapa-siapa dan tampak tidak kepikiran untuk berpacaran, tapi dia juga berpikir ke depan bahwa jangan sampai dia tega menyakiti perasaan cowok lebih dalam hanya untuk membuat si cowok senang saja, padahal aslinya tidak ada perasaan apa-apa.
Lebih baik sejak awal sudah membatasi dan berhubungan selayaknya teman biasa saja daripada memberi harapan dan bahkan menerima cinta padahal cuma karena kasian atau pura-pura. Sebuah sikap bagus dari cewek. Cuma tetap kita tidak pernah tau apa yang terjadi besok. Bisa jadi peluang itu sudah tertutup sejak awal, tapi mana tau suatu saat, engsel pintu bisa terbuka karena suatu hal besar. Terkadang saya menganggap bahwa film fiksi yang isinya karangan, bisa jadi terinspirasi atau berdasarkan pengalaman nyata kan? Untuk itu, tetap semangat si cowok pejuang dan sikap yang saya apresiasi dari cewek.
Sepertinya saya teringat masa SMP saya dulu di mana pada masa itu saya pernah naksir dengan cewek dari kelas lain. Namanya masih remaja labil, ketika ada perasaan naksir diceritakan ke teman, ehh seketika itu juga mulut ember anak-anak langsung nyeplos ke si cewek target. Awalnya mungkin si cewek respon biasa, atau kalau dia emang tidak tertarik, dia bisa menunjukkan sikap dingin. Tapi saya teringat pada waktu itu, cewek yang saya suka merespon dengan senyuman ke saya. Teman-teman dari si cewek itu pun menyoraki saya juga seolah-olah saya memenangkan hatinya.
Ahh betapa senangnya saya sampai terngiang-ngiang hingga di rumah dan beberapa hari setelahnya. Namun, semua itu buyar ketika ada teman saya yang berteman juga dengan si cewek datang kepada saya. Teman saya mengatakan bahwa apa yang saya lihat waktu itu cuma akting semata yang tujuannya adalah membuat saya senang, namun aslinya cewek yang saya suka tidak benar-benar suka dengan saya. Mendengar hal tersebut memang hati saya terasa hancur lebur dan memang terasa lebih sakit dibandingkan sejak awal si cewek memang tidak merespon atau memang menjauh sejak awal.
Dari momen tersebut akhirnya saya menerima hikmahnya, bagi kisah cinta saya dan semoga pembaca dapat mengambil hikmahnya pula. Barangkali ada yang sama atau pernah mengalami, semoga bisa dijadikan refleksi bersama. Salam super.
Komentar
Posting Komentar